Senja itu di pantai Rancabuaya …

Perjalanan menuju pantai Rancabuaya lewat jalan Raya Situ Cilenca Desa Warnasari Kecamatan Pangalengan – Bandung (25/12/2008), terasa berbeda dengan perjalanan2 gw sebelumnya. Jalan yang berkelok-kelok mengitari pegunungan, naik turun bebukitan, menyisir lembah, menjadi kanvas pada imaginasi gw ‘tuk menyuguhkan sensasi sensual atas lukisan alam sesungguhnya kepada pembaca blog gw tentunya.
Saat memasuki alur tersebut, sejauh mata memandang yang tampak adalah hijaunya dedaunan, dan hamparan bebukitan. Asap tipis berwarna putih bersih nampak lembut berjalan beriringan, terkadang bergerak membelai wajah dan lengan bak jemari sang dewi mengajak bercinta, walau terasa dingin menusuk pori-pori, namun sanggup membangkitkan syahwat para bikers untuk mendekapnya, memagutnya, menghisapnya dalam-dalam hingga memenuhi segenap ruang yang ada pada paru-paru. Nafas yang tertahan sesaat dikeluarkan … ough! segar dan terasa nikmat.
Jalan yang berkelok-kelok mengitari pegunungan, naik turun bebukitan, bak perjalanan menyusuri lekuk tubuh aduhai nan sexy. Diantara rintik hujan berselimutkan kabut mengambang, walau pandangan terhalang para bikers tetap menerjang, menyibak penghalang menyusuri bibir lembah curam menusuk kegelapan rimbunnya hutan perawan. Dibalik selimut kabut mereka nampak bergoyang melambat seakan ingin menikmati setiap desah nafas yang dihembuskan, menikmati setiap tetes hujan yang jatuh bak keringat, membasahi sekujur tubuh tanda perjuangan.
Di tengah perjuangan menikmati setiap lekuk tubuh aduhai nan sexy, diantara gunung-gunungnya yang membusung, dibalik selimut kabut mereka nampak bergerak naik turun tak henti-hentinya mencumbu, merayapi bebukitan, menuruni lembah basah, menyusuri setiap jengkal lekuk yang ada berusaha menggapai puncak kenikmatan dari perjalanan tersebut. Para bikers melaju begitu padu, menyatu menjadi satu dengan keindahan alam sekitar yang indah, menggoda membangkitkan syahwat.
Mendekati senja butiran hujan yang turun rintik, bagai tangis sang dewi kayangan yang terisak-isak kala menyadari hutan perawannya telah terjamah, terengut dalam kepasrahan. Memasuki senja mendung yang menggantung semakin gelap, rintik hujan makin kerap, makin deras, seakan ingin melepas murka. Keindahan wajah sang dewi tak lagi tampak tertutup kabut amarah, kicau burung dan nyanyian serangga yang bagai senandung sang dewi saat bercengkrama, tak lagi terdengar. Teriakan sang dewi meracau begitu nyata, gemuruh air yang mengalir diantara bebatuan, gelegar kilat yang bersahutan, tiufan angin yang menerpa bagai tamparan dan cakaran di wajah, telah membawa kecemasan dihati para bikers yang memaksa mereka untuk menghindar dan berlindung (Cisewu: 13:05).
Namun tangisnya sang dewi, tak mampu menghanyutkan, menghapus senyum diwajah para bikers. Senyum kepuasan, kemenangan tampak nyata hadir begitu saja. Senyum penuh arti yang tergambar, sesungguhnya hanya bisa dimengerti oleh para petualang cinta seperti mereka, dan kita tak perlu mempertanyakannya? Karena sesungguhnya hal tersebut hanya bisa dimengerti jika kita ikut bergabung bersama mereka.
Beruntunglah, senja itu amarah sang dewi tak berkepanjangan. Setelah puas melepas emosinya sang dewi pun tak lagi menangis, kecantikan dan keindahan wajahnya yang tak terlukiskan kembali nampak begitu mempesona. Sinar mentari yang menerobos di balik rimbunnya pepohan bak senyum sang dewi dibalik bibirnya yang merekah, begitu membawa kehangatan hingga mampu menyibak selimut kabut yang menutupi keindahan tubuh sang dewi.
Senja itu kembali indah, suasana kembali tenang. Kepasrahan begitu terasa merengut jiwa saat melihat keindahan yang dicipta yang kuasa di depan mata, terbaring telanjang, terlentang tak berdaya. Jalan berkelok-kelok melewati pegunungan, naik turun bebukitan, sungai yang mengalir diantara celah bebukitan nampak bagai surganya sang dewi, gunung yang tersamar dibalik awan putih bagai bra sang dewi yang tersibak menampakan putingnya yang kemerahan tersaput lembayung senja hari.
Senja itu nun dikejauhan nampak awan putih bersih bergerak perlahan, bergerombol membentuk jemari lentik sang dewi yang dijentikan seakan menggoda menantang para bikers untuk kembali mencumbunya tanpa lelah.
Senja itu tak hanya mentari yang memberikan hangatnya, juga pelangi memberikan warnanya pada setiap langkah para bikers yang kembali meneruskan cumbuannya yang tertunda. Sang dewi pun tersenyum dan menyambut mereka diiringi kicau burung dan nyanyian serangga yang bagai rintihan syahdu mendayu memacu nafsu. Para bikers pun terpacu untuk tancap gas dalam-dalam, sesaat mesin 125cc mereka pun memanas, terengah-engah dalam usahanya mendaki puncak kenikmatan… ught… aght..ught!
Kecantikan wajah sang dewi kayangan, rupanya telah membuat orgasme dua orang bikers sebelum waktunya, salah satunya bro Ke2 yang terjerambab tak berdaya bertekuk lutut dikaki sang dewi. Bersyukurlah …! karena ‘cinta tak selamanya harus memiliki’. Walau Sang dewi sempat memberikan ciuman hangatnya, tapi tidak bermaksud menyimpan cinta mereka dalam gelapnya misteri sang dewi. Cupang kemerahan dibeberapa bagian tubuh, hanyalah sebagai pertanda agar mereka lebih waspada.
Saat mutiara indah masih masih menampakkan kilaunya di ujung samudra pantai Rancabuaya (15:50), para petualangpun satu-persatu menapakkan jejaknya, deru kendaraan roda dua mereka terdengar bagai kidung cinta pada heningnya senja di pantai tersebut. Siapapun akan bisa merasakan getarannya. Naluriku berkata “kehadiran 81 orang bikers Unpad di satu tempat, adalah keajaiban cinta!
Pelangi di ufuk senja dengan rona-rona lembut warnanya, datang menghampiri menyapa para bikers. Merah muda, biru, hijau pupus, kuning teduh, ungu lembut nampak indah membuai mata dan jiwa. Lembayung pun seakan tak ingin ketinggalan menampakan cahayanya yang berpendar dari dinding langit, bahkan permukaan lautan. Menentramkan, bak tersimpan beribu neon di baliknya. Benderang namun tak menyilaukan. Kaki telanjangku yang berpijak pada pasir tersapu ombak, namun hanya menambah dalam tertanam. Akupun merasakan cinta (persaudaraan) ini semakin kuat!
Waktu terus bergulir melaju tak tertahan, pelangi dan Lembayung senja tenggelam dalam peraduan, senja pun berganti malam. Malam itu tanpa bulan dan bintang. Kemana gerangan bulan. Kenapa sinarnya enggan menerangi malam. Sang bintangpun tampak tenggelam ditelan kegelapan, yang tersisa hanya gelap warnai kelam. Debur gemuruh ombak bersahutan, semilir angin pantai bersiutan, bagai irama jiwa kegelisahan yang kerap menyapa batin ku kala sendirian.
Lamat-lamat terdengar dikejauhan, derai canda teman-teman yang tengah mencoba merangkai kehidupan (persaudaraan). Percayalah…! Kehadiranmu bukanlah semu, tak seperti lembayung di senja hari walau indah tak dapat tersentuh, kalian ada tak hanya dipelupuk mata, dengan segala keindahan cerita jadilah yang terindah!
Coretan ini ku persembahkan untuk kebersamaan kita …. d<
Salam,
Ballax_69@yahoo.com
Oh ya, terima kasih tuk anggota kepanitiaan touring, khususnya: sist Mey dan sist Oom. yang udah sukses mengkomandoi kegiatan touring tersebut, semoga kerja tulus kalian yang tanpa pamrih, semata untuk kebersamaan, bisa menginspirasi anggota lainnya untuk lebih peduli.

bahasanya terlalu puitis bro, khawatir bro and sis yang lain tidak paham dengan tulisannya yang terlalu indah bahasanya, pake bahasa biasa aja bro.
Sad Admin:
thx komennya. Napa melon buanget yak… heheuy! but i ‘m sorry atuh klo tulisannya g seperti yg tm2 inginkan, coretan di atas sebatas apa yg gw rasakan pada saat bareng tm2 kmaren. Tulisan yg mengadung unsur laporan biarlah menjadi tgjwb sekr club/kepanitiaan…
__________________________________
Pantai Rancabuaya: Seluas mata memandang, biru terhampar berhias buih putih. Irama ombak, semilir angin, membawa angan melayang mengharu biru …
Terlalu indah kebersamaan kita kala grimis senja itu, duduk b’dua dgn hati b’detak, tak mampu b’paling dari mu. Andai ada kekuatan, kata2 cinta khan ku persembahkan utk U!
Namun disudut bi2rku hanya ada sepotong senyum pahit…, saat kau balas rayuanku dengan bisikan kata …”Ich… ky pmain snetron!”
Aduch biunk … bacanya b’rasa horny neeh
padahal dlm tahun ini, gw sama sekali lom ML dan yg terakhir kali adlh pertengahan Des taon lalu total jenderal hampir sebulan deh, mungkin buat sebagian org, itu mah gpp ya tp, buat gw itu ckp mrpkn “prestasi” hahahhahahahhaha…dodols bener
________
69 sad:
bro kita yang satu ini memang fenomenal, nggak pernah basi menciptakan sensasi. imajinasi yang liar namum tetap terkonsep rapi. tidak pernah membayangkan menulis cerita turing dalam metafora dewi kahyangan yang sensual. menyampaikan pesan penting tanpa terkesan menggurui. setuju bro, kita bisa berkumpul karena keajaiban cinta yang agung. tetap berkarya bro, kita tunggu sensasi berikutnya.
___________
69 sad:
Amien..! Thx dah mau mampir, and kapan nich bro Adhi mo kasih sumbangan tulisan lagi… ditunggu yaaaak!
Diterima dari Abu Hurairah ra, bahwa Nabi SAW Bersabda :
” Berpergianlah kamu agar kamu sehat, dan berperanglah kamu, agar kamu berkecukupan. ”
Di Sunnatkan jika hendak berangkat dari rumah membaca :
” Bismillaahii Tawakkaltu `alalloh, walaa haula walaa quwwata illaa billaah.”
( Dengan nama Alloh, aku bertawwakal kepada Alloh, dan tak ada daya maupun tenaga kecuali dengan Alloh )
“Bismillaahi majreiha wamursaahaa, inna rabbii laghafuuru rahiim”
( Dengan nama Alloh, mulai saat berlayar hingga berlabuhnya. Sungguh Tuhanku Maha Pengampun lagi Pemurah )
kalo ke rancabuaya lagi mampir ke rumah aku kang,saya orang rcb kang tapi sekarang sy kerja di cimahi.tp hampir 3 bln sekali sy touring sama temen2,wah pada ketagihan pingin ke rcb lg,katanya..
rancabuaya……ohh…..rancabuaya
Desember,1995 pertama sy mengenalmu dan menidurimu…hingga.. Desember,2009 rasa itu kembali memanggil,,,seandainya,,,,,,,,
nuhun buat kang ballax_69
coretan na sae pisan